
Gaya Beda;
Berdakwah Terang-terangan dalam Novel
Sementara banyak penulis sembunyi-sembunyi dalam menyampaikan amanat cerita yang dibuatnya, Fatma Elly justru dengan berani dan tanpa sungkan mengeksplisitkan niat berdakwahnya dalam novel Love Never Ending, tepatlah jika novel ini dilabeli sebagai “Novel Religi”.
Jika novel pada umumnya menambahkan catatan kaki untuk menjelaskan istilah-istilah yang tidak umum di masyarakat, novel ini justru melampirkan catatan kaki pada setiap bab-nya untuk menjelaskan ayat atau hadits yang bersesuaian dengan cerita pada bab tersebut, Subhanallah. Hal ini tentu saja dapat membantu pembaca yang masih asing dengan ayat Qur’an dan hadits Rasulullah, yang kadung menganggap bahwa agama hanyalah berurusan dengan masjid dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sehari-hari.
Love Never Ending sendiri merupakan lanjutan dari Novel Religi Pintu Cinta yang juga ditulis oleh Fatma Elly, akan tetapi tanpa membaca buku pertamanya pun pembaca tetap dapat menikmati kisah tokoh Lestari dalam novel kedua ini, meski sedikit tergagap karena belum mengenal benar tokoh-tokohnya dan alur cerita sebelumnya.
Cerita dalam novel ini diawali dengan pindahnya kosan Lestari ke tempat ibu Romlah, disebabkan Lestari ingin menghindar dari teman sekamarnya di tempat kos terdahulu, seorang gadis shalehah yang telah membuatnya mengenal agama, seorang yang amat diidolakannya dari banyak segi, Salama.
Lestari ingin menjauhi Salama karena ia telah mencintai Salama, cinta sebagai seorang lesbian, dan Tari telah menyadari hal tersebut sebagai sebuah kesalahan. Begitu ia pindah kos ke tempat bu Romlah, betapa terkejutnya ia ketika menemukan sosok Salama dalam diri anak bu Romlah, Ridwan. Setiap kali berpapas muka dengan Ridwan, jantung Lestari berdetak kencang, pertama kali ia merasakan hal seperti ini terhadap kaum lelaki yang selama ini dibencinya. Lalu bagaimana kemudian cerita ini bergulir? Bagaimana pula hubungan Tari dengan nama-nama dari masa lalunya, seperti teman-teman sesama lesbiannya, juga pria yang pernah dipermainkannya? Lantas apa yang terjadi begitu Tari mengetahui bahwa Ridwan yang telah dicintainya ternyata mencintai wanita lain, yang ternyata adalah Salama? Apakah Lestari kembali menjauh dari nilai Islam yang dikenalnya dari kedua sosok itu?
Fatma Elly menyampaikan dalam kata pengantarnya bahwa ia menulis buku ini terutama karena adanya pola pikir Freudianisme mengenai Id, Ego, dan Superego yang banyak menjangkiti pemikiran para intelek, yang menggambarkan seolah manusia sulit untuk melawan kehendak nafsu kesenangan dunia. Fatma Elly mencoba membantah pendapat tersebut dengan memperlihatkan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk meluruskan dirinya.
Akan tetapi pesan lain yang juga tersampaikan dalam buku ini adalah mengenai kesadaran untuk menularkan kebaikan pada orang lain, sekecil apapun nilai kebaikan itu. Hal ini dapat terlihat dari tokoh Lestari sendiri, yang meskipun belum lama mengenal nilai Islam, tapi tanpa sungkan mengajak tetangga kos-nya yang lain untuk ikut mengaji pada bu Romlah dan Ridwan, juga pada orang lain yang dikenalnya, dengan cara berdiskusi dan sharing pikiran.
Bukankah banyak pemuda Islam yang malu mengenalkan nilai Islam pada rekannya sendiri? Mereka menganggap bahwa urusan agama adalah urusan individu yang tabu untuk diikut campuri. Hal ini juga bisa menjadi teguran bagi orang yang pilih-pilih dalam berdakwah, hanya menyampaikan kebaikan pada; orang-orang yang kelihatan baik, tidak sibuk, atau kelihatan tertarik untuk mendalami agama. Orang-orang yang tidak memenuhi kriteria tersebut yaa tidak perlu didakwahi.
Rasanya novel ini bisa membawa pencerahan dan ketenangan bagi orang-orang yang sedang merasa haus kedamaian. Bahasanya puitis namun tidak berat. Alurnya sederhana dan tidak ngejelimet, kisahnya keseharian. Membuat novel ini tidak hanya cocok dibaca di bulan suci, tapi juga di bulan-bulan lainnya, agar kita selalu diingatkan untuk menjadi pribadi yang istiqomah dalam mengikuti petunjuk Sang Pencipta.
True Love (Never Ending Love)
Love is a mystery. Not shaped, but in looking, lifeless but alive, not sharp but can hurt, but it does not bloom scent.
Love is not like a flower, flowering shortly, withering no meaning. True love blooms forever.
Love is not a gaze of each other, but looking outward together in the same direction.
Everyone has a sense of love. But not everyone can be tasted love. Everyone had sex. But not all be able to label happy.
If we lose love, there must be a reason in reverse. The reason is sometimes difficult to understand. But believe that when he takes something, He has prepared something better for granted.
It is painful to love someone, but not loved by him. But more wonderful is the feeling of love without expecting anything from him any
Happiness is there for those who cry, those who have been hurt, those who have searched and have to try because they usually appreciate the importance of people who have touched their lives
Love is certainly beautiful, though on the other hand also painful. Because that we must learn to enjoy the beauty.
Love is when you shed tears, but still cares for him.
Love is when he does not careth, you’re still waiting for him faithfully.
Love is when he began to love others and you can still smile and say, “I’m so happy for you”

Parent love is an eternal love
Love, if you have it, you do not need anything else. And if you do not have it, whatever else you have not much bererti.
Love is strange. Difficult to interpret. Comes not from coercion, also without a voluntary departure. Love it lovingly with affection. It was to be stroked with tenderness for the beauty brighten again. Roughness may create a separation.

cinta, cinta itu indah, cinta sejati, love, love is certainly beautiful, Love is everything, love keep alive forever, mother love, putus cinta, true love, True Love (Never Ending Love)
BalasHapusCinta, memang tak ada jenuhnya untuk dibicarakan. Saya juga lagi menyusun antologi kisah persepsi cinta. Semoga dengan pelurusan tentang makana cinta kesejahteraan anak akan meningkat. Semangat buat para penulis. Penamu terangi kehidupan.
BalasHapus